Mag-log inフランス・ロワールの森奥深くに佇む「影の城」。 古書修復師の透子が依頼されたのは、サド侯爵の祈祷書の修復と――城主アラン・ド・ヴァルモンによる「夜の教育」だった。 「この本を直すには、君の理性を解体し、感覚を剥き出しにする必要がある」 冷徹な美貌を持つアランは、透子に衣服の制限を課し、痛みと快楽の境界を曖昧にしていく。それは修復作業(ルリユール)の工程そのものだった。 解体される理性。洗浄される過去。そして刻印される愛。 だが、透子は気づいてしまう。完璧な支配者である彼の肉体が、密かに崩壊しつつあることを。
view morePOV Author
Pagi ini Meylina merasa perutnya benar-benar sakit, akhirnya ia memutuskan untuk tidak berangkat ke butik miliknya untuk bekerja. Setiap datang bulan Meylina memang selalu merasakan sakit perut yang luar biasa hebat, hingga membuatnya sulit beraktifitas."Kamu kenapa? sakit?" tanya Agung suami Meylina yang baru saja keluar dari kamar mandi, lantas Agung segera mengganti pakaian dan duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan sang istri yang masih terbaring dengan badan terbungkus selimut tebal."Ngga, Mas, biasa nih aku lagi dateng bulan." Ucap Meylina dengan suara parau."Mau, Mas antar ke dokter? Setiap dateng bulan kamu tuh sakit perutnya parah banget loh, apa gak sebaiknya di perikaskan?" tanya Agung dengan wajah khawatir, namun Meylina menggelengkan kepala tanda ia tak ingin di antar ke dokter karena itu pasti akan membuat pekerjaan suaminya terganggu."Nggak usah, Mas, tadi abis dibikinin sarapan sama Bik Minah, aku juga udah minum obat nyeri. Insyaallah ntar juga mendingan, udah biasa juga kok. Kamu kan katanya ada rapat penting pagi ini."Agung terlihat berfikir, kemudian mendekat ke arah Meylina dan memeluk tubuhnya sesaat."Ya udah kalo gitu Mas ke bawah mau sarapan dulu yah, kalo ada apa-apa kamu panggil Mas aja." Meylina hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.Meylina kembali membaringkan tubuhnya, ia merasa sakit perutnya sedikit berkurang setelah meminum obat nyeri yang Bik Minah Berikan tadi. Namun saat Meylina hendak memejamkan mata terdengar suara Handphone berdering dari atas nakas samping ranjangnya, Meylina menoleh sekilas, dilihatnya handphone Agung berdering. Ia pun kembali berbaring karena ia tak ingin mengganggu privasi suaminya dengan mengangkat telepon di handphone suaminya, namun handphone Agung terus berdering hingga lebih dari 5x, karena takut telepon penting Meylina pun bangun dan meraih Handphone Agung, namun nama yang tertera di layar handphone Agung adalah nama yang tak asing baginya."Susan?" gumam Meylina dengan hati penuh tanya."Apa mungkin Susan... nggak, nggak mungkin!" Meylina mencoba menampik prasangkanya, kemudian ia menyimpan kembali Handphone Agung bersamaan dengan Agung yang masuk ke dalam kamar."Handphone kamu bunyi terus tuh dari tadi, kayaknya penting." Ucap Meylina sambil melihat suaminya yang langsung mengambil tas kerja sambil memasukkan beberapa map."Oyah? Siapa pagi-pagi gini udah nelpon?" Ucap Agung dengan tetap sibuk memasukkan map ke dalam tas kerjanya."Susan" Jawab Meylina sambil terus menatap suaminya lekat untuk memeperhatikan ekspresi Agung.Agung tiba-tiba terdiam sesaat, namun kemudian bersikap seperti biasa."Susan ini?" Agung menyodorkan handphone dengan layar bergambar kontak dengan nama Susan, di sana terdapat foto profil seorang wanita dengan rambut tergerai menghadap kebelakang. Meylina tak dapat mengenalinya. tapi nama wanitu itu mengingatkan Meylina pada seseorang. Seseorang dari masa lalu suaminya."Susan ini pegawai baru di kantor Mas, Sayang, gak usah mikir yang macem-macem yah." Jelas Agung seolah tahu rasa penasaran Meylina."Siapa yang mikir macem-macem!" Elak Meylina sambil memonyongkan bibir membuat Agung tampak gemas, dan langsung beranjak mendekat dan mencium pipi istrinya."Saat ini dan seterusnya hanya akan ada kamu di hati aku, tak perlu mengingat apalagi terganggu dengan masa lalu, aku aja udah move on masa kamu ngga sih!" Ucap Agung sambil mencubit gemas hidung bangir Meylina."Iya, iya, ya udah sana berangkat ntar telat loh""Okey, kamu baik-baik yah di rumah, kalau ada apa-apa langsung telepon aku" Ucap Agung sambil berlalu meninggalkan Meylina.Meylina menghirup nafas dalam, mencoba menetralkan fikirannya. Ia mulai merutuki diri karena sempat berfikir macam-macam hanya karena nama Susan. Meylina benar-benar tahu bagaimana Agung melupakan masa lalunya, dan tak pernah sekalipun mengungkitnya semenjak mereka menikah, bukankah itu harusnya membuat Meylina yakin bahwa masa lalu itu tak mungkin akan mengganggu rumah tangganya.🥀🥀🥀🥀🥀Siang mulai beranjak, Meylina terbangun dari tidurnya saat samar terdengar suara wanita paruh baya yang begitu ia kenal, Meylina langsung beranjak turun dari ranjangnya, dan turun ke lantai bawah."Ibu...." Sapa Meylina saat mendapati Ibu Mirna tengah berada di meja makan menyiapkan banyak makanan."Eh sayang, udah mendingan? kata Agung kamu sakit?" Tanya Bu Mirna sambil menggandeng tangan Meylina menuju meja makan."Nggak, Bu, cuma sakit perut dateng bulan aja kok.""Tadi pagi Agung telepon Ibu, bilang katanya kamu sakit, makanya Ibu tadi buru-buru ke sini sambil mampir di rumah makan buat beli lauk kesukaan kamu, biar kamu cepet sehat." Ucap ibu Mirna penuh semangat."Wah Ibu tau aja nih apa yang dibutuhin wanita yang lagi dateng bulan." Ucap Meylina sambil menyendok makanan di depannya."Oh iya Mey kamu sama Agung beli rumah baru?" tanya Ibu Mirna yang juga mulai menyeruput es buah yang ia bawa.Seketika Meylina menghentikan aktifitasnya dan tertegun mendengar pertanyaan sang ibu mertua."Rumah? Rumah mana, Bu?" tanya Meylina bingung."Itu loh rumah yang ada di ujung komplek ini.""Nggak bu, kalo aku sama mas Agung beli rumah ya pasti kita kasih tau Ibu dulu lah, emang Ibu tau dari mana?" tanya Meylina bingung."Tadi pas Ibu dateng, Ibu ketemu B Ida di depan, katanya dia kemaren liat Agung di rumah itu sama kamu, lagi beresin barang kayak orang pindahan gitu." Tutur Bu Mirna."Bu Ida salah liat kali, Bu".Meylina mencoba tetap berfikir positif, karena kemarin Agung pulang telat dengan alasan meeting penting, jadi tidak mungkin Bu Ida melihat suaminya di rumah ujung komplek ini. Meskipun ada sedikit keraguan dalam hati Meylina, ia mencoba tetap percaya bahwa mungkin bu Ida yang salah mengenali.Hampir jam 8 malam Agung belum tiba di rumah, terakhir ia mengirim pesan pada Meylina akan pulang terlambat karena harus menemui klien dari luar kota. Pekerjaanya sebagai seorang kepala perusahaan Arsitektur membuatnya sering meninggalkan Meylina karena meeting dan menemui klien-klien penting, tapi entah kenapa belakangan ini Meylina merasa Agung terlihat sangat sibuk hingga waktu mereka bersama sangatlah sedikit, apalagi karena nama Susan yang tiba-tiba muncul dan pernyataan bu Ida yang ibu mertuanya beri tahukan tadi membuatnya sedikit was-was.Satu jam berlalu, Meylina masih menunggu Agung di dalam kamar, biasanya Meylina akan menunggu Agung pulang di sofa ruang tamu, tapi karena sakit di perutnya belum benar-benar reda ia memilih menunggu suaminya di dalam kamar, tak terasa matanya terpejam. Hingga tiba-tiba ia mendengar suara Agung dari depan pintu kamar. Meylina melirik jam sekilas yang menunjukkan pukul 11 malam, Meylina gegas turun dari ranjang ingin segera menghampiri Agung namun langkahnya terhenti karena mendengar suara wanita dari telepon yang tengah Agung terima.Meylina urung membuka pintu, dan mencoba menajamkan pendengarannya di balik pintu."Benar suara wanita, tapi siapa yang menelpon Mas Agung selarut ini?" Gumam Meylina.Sedetik kemudian terdengar sayup suara tangis dari telepon tersebut, namun Meylina sama sekali tak mendengar suara Agung, hanya terdengar hembusan nafas berat dari suaminya di balik pintu.Karena penasaran Meylina langsung membuka pintu, Agung menoleh dengan wajah kaget, dan langsung memasukkan handphonenya ke dalam saku piyama yang ia kenakan."Mas lagi telepon siapa? kok tadi aku denger kaya orang nangis?" tanya Meylina penasaran."Ngga sayang, ini tadi Ibu telepon." Agung sedikit tergagap menjawab pertanyaan Meylina."Ibu? Ibu kenapa? apa mungkin ibu sakit?""Ngga sayang gak apa-apa, ibu cuma nanyain keadaan kamu aja, ibu khawatir takut sakit perut kamu belum mendingan,"Ucap Agung sambil masuk ke dalam kamar, kemudian Meylina mengekor di belakang Agung.Meylina sebenarnya tak yakin bahwa yang menelepon adalah ibu mertuanya karena ia tahu betul bahwa ibu mertuanya memiliki jadwal tidur teratur, jarang sekali ia tidur lebih dari jam 9 malam, dan ini sudah jam 11 lebih."Udah malem sayang, ayo cepet tidur!" Ajak Agung pada Meylina yang masih terduduk di samping tempat tidur."Tapi mas, tumben ibu telepon jam segini, ibu kan biasanya jam 9 udah tidur!" tanya Meylina yang sangat penasaran, karena ia yakin bahwa yang menelepon suaminya tadi bukanlah ibunya, bahkan Meylina yakin itu bukan suara ibunya."Mungkin karena ibu khawatir banget sama menantu kesayangannya yang lagi sakit" Ucap Agung sambil mendekat dan memluk Meylina dari belakang. "Udah yuk tidur, mas capek banget nih".Meylina menurut, dan langsung membaringkin tubuhnya membelakangi Agung yang terlihat langsung tertidur.Malam itu Meylina sulit memejamkan kembali matanya, ia masih penasaran siapa yang menelepon suaminya tadi, karena meskipun suaranya tak begitu jelas namun Meylina yakin suara wanita itu bukanlah suara ibu mertuanya."Apa mungkin kamu nyembunyiin sesuatu dari aku mas? atau aku yang terlalu berlebihan?" Gumam Meylina dalam hati sambil memandangi wajah pria yang tlah menjadi pendamping hidupnya selama 4 tahun itu.それから幾つの季節が巡ったのだろうか。 時間の概念は、このシャトー・ド・オンブルにおいては、外界のそれとは異なる速度で流れている。時計の針が刻む客観的な時間ではなく、互いの脈拍と呼吸によって計測される、主観的で濃密な時間。 確かなことは、かつて城を支配していた死の冷気と、あのむせ返るような百合の腐敗臭が消え失せたということだ。 代わりに今、高い天井の回廊を満たしているのは、乾燥した古書のインクの匂い、磨き込まれた床ワックスの香り、そして厨房から漂ってくる焼き立てのパンと、甘く煮詰められた果実のコンポートの香りだった。 それは「生活」という名の、温かく、少しだけ埃っぽい匂いだ。 透子は、この城の女主人として――いや、もっと正確に言えば、この城という巨大な書物の共同執筆者として、今もここで暮らしている。 日本へ帰るためのチケットはとうに期限切れとなり、パリの工房も閉じた。 彼女が帰るべき場所は、地図上のどこかではなく、一人の男の腕の中にしかなかったからだ。 初夏の陽光が降り注ぐサンルーム。 大きな窓辺に置かれた長椅子で、アラン・ド・ヴァルモンが微睡んでいる。 膝の上には、読みかけの古い詩集が開かれたまま乗っている。風がページを捲り、乾いた音を立てるが、彼は目を覚まさない。 透子は部屋の入り口で足を止め、その寝顔を静かに見守った。 長い睫毛が落とす影。薄い皮膚の下で透けて見える青い血管。 彼の病は、奇跡的に完治したわけではない。 ヴァルモン家の血に巣食う呪いは、依然として彼の骨髄の中で眠っている。時折、発作が彼を襲い、そのたびに死神が黒いマントを翻して扉を叩く。 だが、そのたびに透子は彼を現世へと引き戻す。 薬や医療器具によってではない。 栄養価の高い食事と、十分な睡眠、そして毎夜繰り返される濃密な性愛の儀式によって。 透子は確信している。 愛とは、プラトニックな精神論ではない。それは、きわめて物理的で、生理学的な現象だ。 皮膚と皮膚が擦れ合う摩擦熱が、冷えた彼の体温を上げる。 交わされる唾液や体液が、枯渇しかけ
すべての工程は終了した。 地下アトリエの作業台の上には、一冊の書物が鎮座している。 かつてはカビに侵され、関節を外された死体のように無惨だった『マルキ・ド・サドの祈祷書』。それが今、透子の手によって完全な蘇生を遂げ、深紅のモロッコ革の衣を纏って輝いていた。 革の赤は、凝固する直前の動脈血の色であり、あるいは情事の後の充血した粘膜の色。 その背表紙には、透子が命を削って焼き付けた黄金のイニシャル『A.V.』が、薄暗い照明の下で鈍く、しかし決して消えることのない光を放っている。 それは修復された本であり、同時に、相沢透子という女が、アラン・ド・ヴァルモンという男に捧げた愛の聖典でもあった。「……連れて行ってあげて。彼の仲間たちの元へ」 透子は囁くように言った。 アランは無言で頷き、その本を手に取った。 彼の手つきは、新生児を抱くように慎重で、かつ王が王笏を握るように尊大だった。 二人はアトリエを出た。 長い螺旋階段を上る。地下の湿った空気から、地上の乾いた、埃っぽい匂いへと世界が変わる。 到着したのは、物語の始まりの場所――図書室だった。 天井まで届く巨大な書架。数万冊の蔵書が眠る、沈黙の神殿。 夜の帳が下りた室内には、月光だけが青白く差し込み、舞い上がる微細な塵を銀色の粉雪のように照らし出していた。 アランは迷いなく歩を進め、書架の一角、ガラス戸のついた特別な棚の前で立ち止まった。 そこは、彼が特に愛する稀覯本だけが収められた、禁断の領域。 彼はガラス戸を開き、サドの祈祷書を、その隙間へと滑り込ませた。 コトッ。 乾いた音が、広大な図書室に反響する。 それは、長い旅の終わりを告げる音であり、同時に、この本が永遠の眠りにつくための棺の蓋が閉じられた音でもあった。「終わったな」 アランがガラス戸に映る透子の顔を見つめながら言った。「契約完了だ。君は完璧な仕事をした。報酬は約束通り支払おう。……そして
季節は巡り、ロワール渓谷が最も濃密な生命力に覆われる初夏が訪れていた。 城を取り囲む森は、新緑というよりは深緑の海となり、窓から差し込む光さえもが緑色に染まっている。 しかし、地下のアトリエには季節はない。あるのは、一定に保たれた湿度と、数世紀前の空気が澱んだような静謐さだけだ。 だが、その静けさは以前のような張り詰めた冷たさではなかった。 そこは今、互いの呼吸のリズム、体温の揺らぎ、そして魂の形を知り尽くした共犯者たちだけが共有できる、羊水のように温かく、甘い安らぎの空間へと変貌していた。 透子は、作業台に向かっていた。 彼女の眼前には、三ヶ月に及ぶ修復作業を終えた『マルキ・ド・サドの祈祷書』が鎮座している。 かつてカビに侵され、背骨を砕かれていた瀕死の書物は、いまや透子の手によって完全に蘇生していた。 表紙は、深紅のモロッコ革で新調されている。それは凝固する直前の鮮血の色であり、あるいは興奮して充血した粘膜の色でもあった。元のボロボロだった革は、本の見返し部分に「記憶」として移植され、新しい皮膚の内側で静かに呼吸している。 残る工程はあと一つ。 画竜点睛。「箔押し」である。 透子はアルコールランプに火を灯した。 青白い炎が揺らめき、その先端が舐めるように真鍮製の鏝、フィロンを炙る。 チリチリ、と微かな音がする。金属が熱を孕んでいく音だ。 熱せられた金属特有の鋭い匂いと、革のタンパク質の匂い、そして接着剤として塗られた卵白の生臭さが混じり合い、アトリエの空気を官能的に引き締める。 それは、何かを決定的に変質させるための、儀式の匂いだった。「いい手つきだ」 背後から、アランの声がした。 以前よりも少し掠れているが、その分だけ深みを増し、耳の奥に心地よく沈殿する声。 彼は部屋の隅の革張り椅子に座り、膝に薄いブランケットを掛けていた。顔色はまだ陶器のように蒼白だが、その瞳には虚無の濁りはなく、透き通った灰色の光を湛えている。それは、死の淵を覗き込み、そこから生還した者だけが持つ、静かで強靭な光だった。「&h
光を失った世界には、質量があった。 城内のすべての照明が落ちた回廊は、たんなる暗闇ではなく、黒い羊水のような粘度の高い液体で満たされているようだった。 窓の外で炸裂する雷光だけが、数秒おきに世界を暴き出す。その青白いフラッシュの中で、長い廊下の彫像たちが、苦悶の表情を浮かべて浮かび上がっては、また虚無の底へと沈んでいく。 透子は走った。 ハイヒールはとうに脱ぎ捨てていた。裸足の裏が冷たい石の床を蹴るたびに、氷のような冷気が脚を伝って心臓まで駆け上がる。だが、その冷たさが逆に、透子の内側で燃え盛る激情の炎を煽り立てていた。 アランはどこにいる。 書斎の扉を開け放つ。いない。 主寝室のベッドには、誰も寝た形跡がない。 透子の直感が、背筋を焦がすような確信となって方角を示した。 北塔。 この城で最も古く、最も高く、そして最も孤独な場所。彼だけが使うことを許された、旧式のエレベーターがある場所だ。 彼は逃げようとしたのではないか。地を這う獣のように無様な死に様を晒すくらいなら、天に近い場所で、あるいは昇降する鉄の箱の中で、誰にも知られずに息絶えることを選んだのではないか。 そんな美学は認めない。 そんな綺麗な結末なんて、私が破り捨ててやる。 透子はドレスの裾を翻し、北塔への渡り廊下を疾走した。呼吸は乱れ、喉の奥から血の味がした。それは自身の血の味であり、同時に、幻覚のように漂うアランの血の味でもあった。 北塔のエレベーターホールに辿り着いたとき、そこは墓所のような静寂に包まれていた。 真鍮で装飾された重厚な扉は、硬く閉ざされている。階数表示のアナログな針は、動力を失って停止している。 だが、透子の鋭敏な感覚は捉えていた。 扉の隙間から漏れ出す、微かな、しかし決定的な「死」の匂いを。 雨の匂いにも、古い石の匂いにも消されない、鉄錆と甘い腐敗が混じった生温かい香り。 そして、耳を澄ませば聞こえてくる、湿った布が擦れるような音。 ゴホッ、ゴホッ……。 地底から響くような、弱々しい咳
その夜、ロワールの森は轟音に包まれていた。 大西洋から流れ込んだ低気圧が猛烈な嵐となり、古城を根こそぎ揺さぶっている。 窓ガラスを叩く雨は、もはや液体ではなく無数の礫のようだった。時折、闇を切り裂く稲妻が、アトリエの無機質な空間を一瞬だけ青白く照らし出し、すぐにまた深い影の底へと沈める。 透子は自室には戻っていなかった。アランからの「部屋で待機せよ」という命令は、もはや彼女にとって守るべき規律ではなく、破るために存在する薄い膜でしかなかった。 地下アトリエの作業台。 無影灯の白い光の下で、透子は顕微鏡を覗き込んでい
エントランスホールを埋め尽くしていた数百本の百合が撤去されてから、三日が過ぎた。 城の空気は浄化されたはずだった。あのむせ返るような腐敗臭とインドールの毒気は、業務用の強力なオゾン脱臭機と、執事たちが撒いたミントの洗浄液によって完全に拭い去られた。 だが、透子にはわかっていた。 匂いが消えた分だけ、城の静寂は以前よりも鋭く、そして冷たく研ぎ澄まされていることを。それは、嵐の前の気圧低下が鼓膜を圧迫するように、皮膚の毛穴一つ一つを収縮させるような不穏な静けさだった。 アランは変わった。 いや、正確には「以前よりも完璧で、残酷な支
翌朝、透子が目を覚ますと、世界から音が消えていた。 連日降り続いていた雨が上がり、重い雲の隙間から、病的なまでに白い陽光が差し込んでいる。 だが、その静寂は平和の訪れではなかった。嵐の去った後の清々しさなど微塵もない。むしろ、気圧が急激に下がったときのような、耳の奥を圧迫する不穏な空気が城全体を支配していた。 透子は身支度を整え、部屋を出た。 地下アトリエへ向かうために回廊を歩き始めたとき、異変はまず「匂い」として襲いかかってきた。 それは、空気の粒子そのものが粘り気を帯びたかのような、圧倒的な質量を持った芳香だった。
その夜、透子に与えられたのは、衣服というよりは、皮膚の上に塗るもう一層の「闇」だった。 部屋に届けられたのは、漆黒のベルベットで仕立てられたイブニングドレス。 正面から見れば、喉元まで詰まったスタンドカラーに長袖という、修道女のように禁欲的なデザインに見える。しかし、その実態はアランの歪んだ美学が凝縮された拘束具だった。 背中側は、うなじから腰の窪み、臀部の割れ目が始まるギリギリのラインまで、刃物で切り取ったように大胆にカットされ、脊椎のラインが完全に白日の下に晒される構造になっていた。 そして何より、このドレ